Ukuran Kematangan bukan pada Usia

Ramai orang dewasa pada umurnya tapi belum dewasa minda dan jiwanya.

Justeru sikap suka merajuk, emosi, marah, putus asa, suka melihat dan membuka kesalahan orang lain, suka berkelahi, berdebat, berpecah dan berpuak, suka sombong, suka menunjuk-nunjuk (riya’), suka berdengki, suka besarkan hal yang kecil dan pelbagai sifat negatif lain, menunjukkan hakikat dirinya masih belum dewasa atau tua, cuma dewasa atau tuanya itu hanya usia zahirnya sahaja.

Ada mereka yang ilmunya penuh pada akal, tapi dalam hatinya kosong. Perbezaan ilmu akal dan hati adalah adab atau akhlak.

Rasulullah ﷺ bersabda:

“Sesungguhnya Allah ‘azawajalla telah mendidikku dengan adab yang baik (dan jadilah pendidikan adab ku istimewa).” (HR. Ibnu Mas’ud)

مَا شَيْءٌ أَثْقَلُ فِيْ مِيْزَانِ الْمُؤْمِنِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ مِنْ خُلُقٍ حَسَنٍ وَإِنَّ اللهَ لَيُبْغِضُ الْفَاحِشَ الْبَذِيْءَ.

“Tidak ada sesuatu pun yang lebih berat dalam timbangan seorang mukmin di hari Kiamat melainkan akhlak yang baik, dan sesungguhnya Allah sangat membenci orang yang suka berbicara keji dan kotor.” (HR. Tirmidzi dan Ibnu Hibban)

Orang yang matang adalah mereka yang tinggi adabnya dan mereka yang tiada matang adalah yang rendah adabnya.

Untuk melihat seorang yang matang, jangan dilihat pada ilmu, ibadah, usia dan usaha-usaha kebaikannya, tapi lihatlah pada adabnya.

Adab datang dari cahaya hati yang membawa kematangan pada akal. Ia adalah anugerah Allah pada mereka yang dicintaiNya.

Ada kalangan non-muslim atau fasik yang baik adab dan matang dalam tindakan. Hal ini adalah terhasil dari proses pembelajaran, pendidikan, suasana dan pemerhatian dalam kehidupan, ia bukannya terbit dari nur Ilahi dalam jiwanya.

Ramai ilmuan yang bertaraf ulama dan profesor namun jiwanya masih keanak-anakan.

Jadilah diri kita golongan yang membawa sesuatu baik dan positif dalam  agama, keluarga, masyarakat dan negara, bukannya membawa nilai keburukan dan negatif.

Seorang anak akan mewarisi sifat ayahnya. Seorang murid yang benar akan mewarisi sifat gurunya.

Jika guru suka membawa perpecahan, kebencian dan suka merendahkan orang lain, maka itulah sifat yang akan diwarisi muridnya.

Jika seorang anak dapat dikenali dengan melihat iras rupanya dengan ibu bapanya, seorang murid dapat dikenali dengan melihat iras ilmu dan akhlak seperti gurunya.

Jika ada murid yang iras ilmunya sama tapi iras akhlaknya tidak sama, maka murid tersebut hanya mendapat ilmu pada akalnya tapi tiada perolehi ilmu dalam jiwanya.

المرء على دين خليله فلينظر أحدكم من يخالل
“Seseorang itu menurut agama temannya. Maka perhatikanlah kepada siapa yang kamu berteman.” (HR. Abu Daud dan Tirmidzi)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s